Translate

Tuesday, February 28, 2017

Coretan tentang Diskusi Kesenjangan (Inequality)

 
Meskipun ekonomi global terus berkembang dalam beberapa dekade terakhir, tetapi jumlah orang dengan tingkat penghasilan kurang dari dua dollar Amerika per hari masih satu pertiga dari populasi dunia (data World Bank, IMF, OECD tahun 2015). Ratusan juta orang tidak memiliki akses terhadap fasilitas kesehatan, akses permodalan, pendidikan, air bersih, dll. Tumbuhnya perekonomian global ternyata beriringan dengan meningkatnya kemiskinan global.
Dua dekade terakhir juga memperlihatkan ketimpangan pendapatan yang luar biasa.  225 orang terkaya di planet Bumi diprediksi memiliki kekayaan setara dengan 40% populasi dunia[1]. Menurut Forbes, salah satu majalah terkemuka dunia yang selalu menghadirkan daftar orang terkaya di jagat raya, jumlah milyuner di dunia bertambah dari 306 di tahun 2000 menjadi 946 di tahun 2007. Kekayaan bersih mereka diperkirakan berjumlah 3.5 Trilyun Dollar[2]. Orang-orang “super-rich” ini diprediksi akan terus bertambah di tahun-tahun mendatang (lihat laporan World Bank dan OECD).
Data-data mutakhir tentang “inequality” atau ketimpangan bisa kita temui dalam berbagai bidang selain ekonomi. Data-data tersebut harus dimaknai sebagai “fakta kehidupan” yang sejatinya tidak terlepas dari berbagai bidang keilmuan yang relevan seperti ekonomi, kajian agama, politik, sosial budaya, dll. Seaindainya hal tersebut tidak bisa terwujud, paling tidak kajian-kajian tentang “inequality” baik formal maupun informal menjadi alert bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap keberlangsungan peradaban dan kemanusiaan (stakeholders of civilisation and humanity).  
Pertanyaan yang membutuhkan perhatian adalah “Apakah yang dimaksud dengan “inequality”? “Apakah akar penyebab terjadinya “inequality”? Apakah mungkin inequality dapat dihilangkan ataukah hanya dikurangi kadarnya?. Diskusi atas pertanyaan-pertanyaan tersebut paling tidak sebagai muqoddimah dalam diskursus yang lebih komprehensif tentang tema-tema yang berkaitan dengan “inequality”. 

Mencari definisi “Inequality”
Dalam mendiskusikan “inequality”, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyamakan persepsi tentang definisi “inequality”. Hemat saya, semua manusia harus memiliki kesetaraan dalam mendapatkan kebutuhan dasar (basic needs), seperti pendidikan, kesehatan, kenyamanan, tempat tinggal, pekerjaan, akses permodalan, kesempatan yang sama dalam hal menyampaikan pendapat, dll (silakan Anda sebutkan). Dengan kesempatan yang sama, pencapaian manusia terhadap suatu hal bisa berbeda-beda. Permasalahan muncul ketika tidak semua manusia memiliki akses terhadap kebutuhan dasar ini (basic needs). Hilangnya kesempatan untuk mendapatkan kebutuhan dasar ini bukan hanya ditemui di negara-negara berkembang dan miskin, tetapi juga termasuk di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat.

Apakah Akar Penyebab ‘Inequality”
Salah satu faktor yang sering didiskusikan sebagai akar penyebab terjadinya ketimpangan adalah Kapitalisme. Kapitalisme tidak selalu diartikan sebagai sebuah sistem ekonomi, tetapi lebih dari itu dia mencakup cara pandang dan nilai-nilai bagaimana dunia ini harus dikelola. Dari Abad 17 sampai sekarang, paradigma kapitalisme mengalir bagaikan air bah yang menghantam apapun yang dia lalui. Francis Fukuyama melalui “The End of History” mengatakan bahwa kapitalisme termasuk ideologi akhir jaman, yang tidak akan ada ideologi yang bisa menyainginya. Kapitalisme menurut pandangan ini melakukan tiga upaya sistematis yang senantiasa beriringan untuk mencapai tujuan-tujuannya, yaitu: (1) ekspansi dalam bidang ekonomi, militer, dan budaya, (2) eksploitasi terhadap sumber daya alam dan manusia, (3) dan ekpansi nilai-nilai demokrasi melalui promosi Negara modern/nation state (lihat misalnya Mantoux, 1906). Ekploitasi sumber daya alam dan manusia melahirkan kolonialisme dan imprealisme, yang kemudian bermetamorposis menjadi globalisasi. Ekspansi ekonomi melahirkan industrialisasi. Ekspansi nilai-nilai demokrasi melahirkan nation state. Tiga hal tersebut yaitu globalisasi, nation state, dan industrialisasi membentuk pilar kapitalisme. Interaksi ketiganya dipandang menjadi penyebab terjadinya berbagai krisis global seperti perang, eksploitasi ekonomi dan sumber daya manusia, kehancuran ekosistem dan lingkungan, kelaparan, dll. Negara-negara kapitalis selalu mencari daerah geografis baru yang bisa dijadikan target industrialisasi mereka. Mereka berusaha untuk mengontrol factor-faktor produksi seperti tanah, sumber daya alam, modal, labour untuk motif keuntungan yang tidak terbatas. (silakan didiskusikan lebih lanjut mengenai thesis ini).

Faktor kedua yang seringkali dicap sebagai penyebab terjadinya “inequality” adalah sistem ekonomi yang salah kaprah. Ini merupakan irisan dari ideologi kapitalisme itu sendiri. Wall Street Journal dalam edisi “Boom in Financial Markets Parallels Rise in Share for Wealthiest Americans (December 10, 2007) menyatakan bahwa 1% pendapatan orang kaya Amerika Serikat melebihi 50% pendapatan populasi penduduk Amerika Serikat. Lebih lanjut dikatakan bahwa kekayaan the 1% richest Americans bertambah secara signifikan terutama melalui industri keuangan. Studi yang dilakukan oleh University of Chicago tahun 2004 menunjukkan bahwa para bankers Wall Street diperingkat 50% teratas dari the 1% richest Americans.

Sistem keuangan global tidak didisain sebagai mesin penggerak ekonomi sektor riil yang pro terhadap berbagai golongan ekonomi masyarakat, tetapi sebagai mesin pencipta kekayaan bagi para bankers, golongan masyarakat tertentu terutama menengah keatas, dan orang-orang “super-rich” yang ingin melipatgandakan uangnya tanpa melalui sektor riil. Dibuatlah instrumen-instrumen keuangan yang rumit termasuk didalamnya instrumen spekulatif. Sejarah pun membuktikan bahwa para Wall Street professional ini bertanggung jawab terhadap runtuhnya ekonomi AS pada 2008 (lihat misalnya Johnson & Kwak, 13 Bankers: the Wall Street Takeover and the Next Finanical Meltdown). Mereka menciptakan sebuah “global casino” dimana akumulasi dana yang mereka kumpulkan dari masyarakat tidak dialokasikan kepada sektor ekonomi riil, sektor yang bersentuhan langsung dengan transaksi ekonomi masyarakat secara umum, tetapi melalui sektor keuangan (financial markets). Lebih dari 70% aliran pendanaan disalurkan melalui sektor keuangan yang penuh dengan instrumen keuangan “beracun” misalnya derivatif, ie. Credit Default swaps, Mortgage backed securitisation (silakan di google dengan keywords “leverage during financial crisis 2008”). Cara kerja “global casino” ini sangat rumit yang melibatkan bankir, lawyers, dan para jenius lulusan-lulusan universitas ternama dunia (lihat bukunya Michael Lewis dengan judul the Big Short, tentang pengakuan mantan professional Wall Street, seorang jenius polos yang menciptakan mekanisme matematis rumit untuk mendapat keuntungan luar biasa dari instrumen-instrumen keuangan beracun tersebut). Akibat ulah permainan spekulatif para bankir ini, pasar keuangan Amerika mengalami kehancuran yang menyebabkan krisis keuangan global dan merambah ke berbagai Negara (untuk mengetahui alasan dampak sistemis kegagalan ekonomi Amerika terhadap berbagai Negara lainnya, cari di google dengan keywords systematic risks and financial globalisation). Pemerintah Amerika melalui kebijakan “too big to fails” mengeluarkan dana (bailouts) untuk menahan kebangkrutan beberapa pemain keuangan global diantaranya CitiGroup (yang kartu kreditnya sangat populer di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia) menyebabkan publik Amerika menanggung beban hutang the 1% richest Americans melalui penyesuaian pajak maupun pemotongan anggaran berbagai fasilitas sosial lainnya. Sebuah ironi jaman modern, dimana 1% terkaya Amerika mendapatkan “infaq” dari seluruh populasi Amerika. Masyarakat yang tidak tahu menahu tentang cara kerja industri keuangan harus menanggung hutang akibat ketamakan para bankir-bankir Wall Street ini. Contoh diatas merupakan salah satu diskursus yang berkembang di dunia akademis sebagai penyebab “inequality” terutama dalam spectrum ekonomi keuangan.

Adakah Solusi terhadap Penomena “Inequality” ini?
Penomena “inequality” merupakan bagian dari sejarah umat manusia itu sendiri. Dalam berbagai peradaban dunia, phenomena ini selalu muncul dan jadi perhatian para pemangku kepentingan pada jamannya masing-masing. Dari mulai agama, Negara, sampai kajian ekonomi dan sosial budaya, “inequality” ini selalu menjadi pusat perhatian.

Dalam konteks agama misalnya, kitab suci umat Islam Al-Qur’an menyebutkan bahwa “Jangan sampai harta itu berputar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu”. Secara literal, menurut pemahaman orang awam seperti saya, ayat ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an menekankan konsep distribusi pendapatan yang lebih adil dan merata dalam sebuah struktur masyarakat. Pertanyaan bagaimana mekanisme untuk mencapai distribusi pendapatan yang adil dalam konteks tersebut, dijawab para ahli dengan mengkaji konsep-konsep dalam Al-Qur’an yang berhubungan dengan tata nilai ekonomi, seperti konsep pelarangan riba, zakat, infaq, wakaf, shadaqoh, etika bisnis dalam perspektif Islam, termasuk aspek political economy yaitu bagaimana peran Negara terhadap sebuah perekonomian, dll. Semua kajian-kajian tersebut bermuara pada pertanyaan bagaimana menciptakan sebuah masyarakat adil dan makmur termasuk didalamnya keadilan dalam distribusi pendapatan.

Dari sudut pandang yang lain, menciptakan pemerataan pembangunan dan pendapatan dapat dilihat dari diskurus antara kapitalisme dan sosialisme. Kapitalisme menekankan para mekanisme pasar untuk mencapai pembangunan termasuk pemerataan pendapatan, sedangkan sosialisme menekankan pada mekanisme Negara maupun struktur sosial kolektif untuk mencapai pemerataan tersebut. (silakan hal ini juga menjadi bahan diskusi).

Dari sudut pandang peran negara dan peran masyarakat sipil, apakah masalah ketimpangan ini menjadi tanggung jawab Negara saja atau termasuk juga organisasi sipil, atau masyarakat sipil melalui berbagai macam NGO atau ormas-ormas. Ahmad Dahlan, sebagai contoh, memberikan contoh solutif peran masyarakat sipil dalam mengurangi “inequality”. Keberadaan sekolah-sekolah, rumah sakit, panti-panti Asuhan, dan amal usaha lainnya menunjukkan upaya Ahmad Dahlan untuk memberikan akses kebutuhan dasar (basic needs) kepada masyarakat. Ahmad Dahlan telah berhasil atau menambal “absent”nya Negara terhadap pemeliharaan fakir miskin dan anak-anak terlantar ataupun kaum mustadafiin lainnya.

Dalam konteks sosial budaya, permasalahan ketimpangan bermuara pada dua tesis besar yaitu ketimpangan structural dan kultural. Ketimpangan structural adalah ketimpangan yang diakibatkan oleh sebuah sistem eksploitatif yang secara sistematis menciptakan hilangnya akses terhadap kebutuhan kebutuhan dasar manusia. Obat mujarab untuk menghilangkan ketimpangan model ini adalah dengan mengganti sistem yang telah menciptakan ketimpangan tersebut (pertanyaan lanjutan untuk pernyataan ini adalah, bagaimana mengganti sistem tersebut?). Sedangkan ketimpangan kultural adalah ketimpangan yang muncul akibat prilaku personal manusia yang menyebabkan ketimpangan tersebut. Contohnya H.J. Boeke, ahli sosilogi  dan antropologi ekonomi di Universitas Leiden, berpendapat bahwa sebab musabab miskinnya masyarakat pedesaan di Jawa adalah kekalahan mereka dalam persaingan ekonomi akibat dari mentalitas rendah dalam aktifitas ekonomi. Solusi terhadap ketimpangan jenis ini adalah mentransformasi cara pandang masyarakat terhadap kerja. Bagaimana cara mentransformasinya dan media apa yang digunakan, kembali menuntut otak kita untuk memikirkannya.

‘Ala Kulli Hal
Diskusi “connecting dots …” sebagai momen yang tepat untuk mendiskusikan isu-isu “inequality” yang saya sampaikan diatas. Selamat berdiskusi.

Salam.
Yudi Ahmad Faisal
Sydney 19 June 2016



[1] Jerome C Glenn and Theodore J Gordon, State of the Future 2007, Millennium Project / World Federation of UN Associations, 2007, Bhttp://www.acunu. org/millennium/sof2007-exec-summ.pdf
[2] For 2007, see: Forbes, ‘The World’s Richest People’, 3 August 2007, Bhttp:// www.forbes.com/2007/03/06/billionaires-new-richest_07billionaires_cz_lk_af_ 0308billieintro.html􏰂. For 2000, see: Bhttp://www.forbes.com/lists/home. jhtml?passListId􏰀10&passYear􏰀2000&passListType􏰀Person􏰂

No comments: